https://www.facebook.com/abdullah.rois.54

Senin, 23 Juli 2018

Sisi Lain laki-laki dan Perempuan
Oleh: Rais Abdullah (Rai S)


Kenyataannya, sebagai makhluk sosial, laki-laki dan perempuan memiliki rasa ingin diperhatikan. Perasaan tersebut merupakan fitrah terciptanya manusia. sehingga fitrah tersebut menuntut kehadiran subjek yang menjadikan mereka sebagai objek perhatian.

Namun, kendati demikian, perasaan ingin diperhatikan yang dimiliki seorang perempuan lebih tinggi dari pada rasa yang dimiliki seorang laki-laki. Perhatian dikategorikan sebagai kebutuhan primer bagi seorang perempuan, meskipun tidak menutup kemungkinan hal tersebut bisa juga terjadi pada sebagian laki-laki. Akan tetapi pada kenyataannya, kebutuhan seorang laki-laki terhadap perhatikan masih dikategorikan sebagai kebutuhan skunder. Masih berada dibawah rasa kepuasan yang menjadi kebutuhan utama seorang laki-laki.

Kebutuhan dominan akan perhatian tersebut yang menjadi titik lemah seorang perempuan. Sehingga dalam implimentasinya akan menjadikan seorang perempuan ‘mati langkah’ untuk menolak kehadiran subjek yang telah menyentuh objek perasaannya tersebut, atau dalam bahasa lain bisa disebut sebagai feelling spot. Sedangkan laki-laki, dengan bekal fitrah yang dibawanya, akan menjadi aktor yang dengan terus menerus meng-objek-kan perempuan sebagai object spot of felling. inilah fitrah.

Namun yang ingin penulis ulas pada bagian berikut adalah sisi lain yang penulis kira jika hal tersebut diamati merupakan peng-garis-bawahan dari konsep sebelumnya. Di bagian dan objek tertentu, perasaan ingin diperhatikan seorang laki-laki lebih berbahaya dari pada rasa yang dimiliki seorang perempuan. Hal ini disebabkan oleh perasaan ingin diperhatikan laki-laki yang lebih rendah, sehingga memberikan kesempatan jeda lebih untuk mengkonsep cara mendapatkan objek keinginannya. Berbeda dengan seorang perempuan, yang dengan perasaan ingin diperhatikan secara total tersebut tidak memberikan kesempatan bagi seorang perempuan untuk mengkonsep cara untuk mendapatkan objek keinginan sebaik seorang laki-laki. Sehingga konskuensi konsep ini adalah perempuan dominan sebagai korban perasaan, sedangkan laki-laki di posisi sebaliknya.

Salah satu pembuktian konsep ini penulis peroleh dari beberapa sample lapangan tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan di lingkungan penulis, baik dari kalangan masyarakat sekitar, sekolah, teman maupun kerabat.

Pada satu kasus, seorang laki-laki menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Semua berjalan seperti teori yang dijelaskan sebelumnya. Laki-laki mendominasi dalam menguasai perasaan si perempuan (spot feelling). Sedangkan si perempuan menerima perhatian dari pasangannya sebagai object spot of feelling. Ketika hubungan mereka sudah berada dalam titik yang ‘goyah’, laki-laki, dengan konsep di atas akan lebih bisa menguasai diri/perasaan. Sehingga dalam keadaan seperti ini, laki-laki masih bisa mengendalikan perasaan perempun. Yang perlu diketahui oleh seorang perempuan, dengan penerapan konsep di atas seorang laki-laki masih sangat memungkinkan mengendalikan perasaan seorang perempuan sekali pun mereka telah memutus hubungan.

Perhatikan berikut ini. Teman perempuan saya memiliki pasangan. Perasaannya sudah dikuasai oleh si laki-laki, entah itu karena imeng-imeng dijanjikan akan dinikahi, dijanjikan masa depan yang bahagia, dsb. Ketika suatu ketika si laki-laki harus meninggalkan teman saya ini, ia akan membuat konsep bagaimana agar proses putus hubungannya dengan teman perempuan saya tidak nampak sebagai murni kesalahannya. Anggap saja, permasalahan yang dihadapi oleh si laki-laki adalah ia dijodohkan oleh orang tuanya. Di sisi yang lain dia tidak ingin dikenal sebagai pengkhianat dihadapan teman saya. Maka, dia mulai menceritakan kebenaran jika dia akan dijodohkan kepada teman saya. Yang tejadi, teman saya akan menangis. Si laki-laki kembali akan menguatkan dengan motifasi-motifasi dan semacamnya hingga akhirnya yang terjadi apa? Mereka berakhir dengan cara damai. Hilang sudah dari pemikiran teman perempuan saya jika ia telah dikhianati. Yang ada, inilah takdir. Memang semua benar. Namun, ini bukanlah akhir, melainkan ini awal dari bencana bagi seorang perempuan. Sebab, seorang perempuan masih akan tetap mengenang si laki-laki sebagai orang yang terkasih. Sebagai orang yang tidak bersalah. Sebagai orang yang tidak mengkhianati. Yang terjadi apa? Proses move on yang lama dan sulit membuka hati bagi orang lain. Mengapa? Karena perasaan si perempuan masih DIKENDALIKAN OLEH MANTAN KEKASIHNYA tersebut. Jelas ini berbahaya bagi seorang perempuan.

Sedangkan di sisi yang lain, seorang laki-laki akan merasa bangga (red. konsep kepuasan sebagai kebutuha primer bagi laki-laki) karena masih mengendalikan atau menjaga perasaan mantan perempuannya, sekali pun ia sadar jika ini adalah kesalahannya, ia akan tetap berpura-pura menutup mata. Untuk apa laki-laki melakukan ini? kepuasan (red. konsep kepuasan sebagai kebutuha primer laki-laki). Ketika laki-laki sedang bosan, ia kembali akan menghubungi mantan kekasihnya. Ia kembali akan membicarakan seputar kesenangan sampai mengungkit masa-masa indah mereka. Bisa dengan cerita, mengirim foto dsb. Hanya untuk kepuasan semata/iseng. Sedangkan bagi perempuan? ia tidak akan pernah menganggap sebagai hal yang sengaja dilakukan oleh si laki-laki, melainkan ia akan menerimanya begitu saja. Membiarkan dirinya terjebak dalam putaran masa lalu. Membuat dirinya berada dalam lingkaran yang sama dan akhirnya jatuh pada lubang yang sama pula. Bagi perempuan yang demikian, sulit baginya untuk move on, kembali percaya, atau yakin jika masih ada orang yang bisa sebanding dengan mantan kekasihnya. Mengapa? Karena perasaan lah yang lebih dominan bagi seorang perempuan (red. konsep perasaan sebagai kebutuhan primer bagi perempuan).

Lalu apa yang harus dilakukan seorang perempuan? Menerima, tutup masa lalu, tatap masa depan, lalu rasakan dengan sepenuh-penuhnya rasa orang yang saat ini benar-benar peduli dan memerhatikanmu. Dan jangan lepaskan orang tersebut. Jika masih belum? Percayalah, anda telah melangkahi kuasa Tuhan J (jodoh sudah ada yang mengatur broo, jangn sewot gtuu J J J).

Maka, berhati-hatilah dan tetap saling menjaga. selalu saling menjaga sikap menghargai antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana pun dan seperti apa pun semestinya kita sadar jika menjaga perasaan adalah keniscayaan. Seorang laki-laki sudah sepantasnya bersikap mengahrgai dan menerima fitrah seorang perempuan. Pun demikian dengan seorang perempuan semestinya juga melakukan hal sama, serta selalu berwaspada yang lebih J

Terima kasih

Madura, 23 Juli 2018

*Tulisan ini murni dari opini penulis, jika ada kesalahan yang sepantasnya tidak penulis sampaikan, kritik para pembaca sangat kami harapkan.

Penulis adalah santri di pondok  pesantren Annuqayah daerah Latee. aktif menulis esai, arikel, story dan puisi. perindu bulan purnama karena baginya saat itulah sebuah puisi akan tercipta buat putri tidur-nya.

penulis dapat dihubungi di email abdullahrois79@gmail.com
untuk Fb-nya klik DISINI dan DISINI buat twitter-nya
pengin lihat puisi-puisinya juga? klik HERE
atau pengin dapatkan cerita bahasa inggris?klik HERE