Sisi Lain laki-laki dan Perempuan
Oleh: Rais Abdullah (Rai S)
Kenyataannya,
sebagai makhluk sosial, laki-laki dan perempuan memiliki rasa ingin
diperhatikan. Perasaan tersebut merupakan fitrah terciptanya manusia. sehingga
fitrah tersebut menuntut kehadiran subjek yang menjadikan mereka sebagai objek
perhatian.
Namun, kendati
demikian, perasaan ingin diperhatikan yang dimiliki seorang perempuan lebih
tinggi dari pada rasa yang dimiliki seorang laki-laki. Perhatian dikategorikan
sebagai kebutuhan primer bagi seorang perempuan, meskipun tidak menutup
kemungkinan hal tersebut bisa juga terjadi pada sebagian laki-laki. Akan tetapi
pada kenyataannya, kebutuhan seorang laki-laki terhadap perhatikan masih dikategorikan sebagai kebutuhan
skunder. Masih berada dibawah rasa kepuasan yang menjadi kebutuhan utama
seorang laki-laki.
Kebutuhan
dominan akan perhatian tersebut yang menjadi titik lemah seorang perempuan.
Sehingga dalam implimentasinya akan menjadikan seorang perempuan ‘mati langkah’
untuk menolak kehadiran subjek yang telah menyentuh objek perasaannya tersebut,
atau dalam bahasa lain bisa disebut sebagai feelling spot.
Sedangkan laki-laki, dengan bekal fitrah yang dibawanya, akan menjadi aktor
yang dengan terus menerus meng-objek-kan perempuan sebagai object spot of
felling. inilah fitrah.
Namun yang
ingin penulis ulas pada bagian berikut adalah sisi lain yang penulis kira jika
hal tersebut diamati merupakan peng-garis-bawahan dari konsep sebelumnya. Di
bagian dan objek tertentu, perasaan ingin diperhatikan seorang laki-laki lebih
berbahaya dari pada rasa yang dimiliki seorang perempuan. Hal ini disebabkan
oleh perasaan ingin diperhatikan laki-laki yang lebih rendah, sehingga
memberikan kesempatan jeda lebih untuk mengkonsep cara mendapatkan objek
keinginannya. Berbeda
dengan seorang perempuan, yang dengan perasaan ingin diperhatikan secara total
tersebut tidak memberikan kesempatan bagi seorang perempuan untuk mengkonsep
cara untuk mendapatkan objek keinginan sebaik seorang laki-laki. Sehingga
konskuensi konsep ini adalah perempuan dominan sebagai korban perasaan,
sedangkan laki-laki di posisi sebaliknya.
Salah satu
pembuktian konsep ini penulis peroleh dari beberapa sample lapangan tentang
hubungan antara laki-laki dan perempuan di lingkungan penulis, baik dari
kalangan masyarakat sekitar, sekolah, teman maupun kerabat.
Pada satu
kasus, seorang laki-laki menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Semua
berjalan seperti teori yang dijelaskan sebelumnya. Laki-laki mendominasi dalam menguasai
perasaan si perempuan (spot feelling). Sedangkan si perempuan menerima perhatian
dari pasangannya sebagai object spot of feelling. Ketika hubungan
mereka sudah berada dalam titik yang ‘goyah’, laki-laki, dengan konsep di atas
akan lebih bisa menguasai diri/perasaan. Sehingga dalam keadaan seperti ini,
laki-laki masih bisa mengendalikan perasaan perempun. Yang perlu diketahui oleh
seorang perempuan, dengan penerapan konsep di atas seorang laki-laki masih
sangat memungkinkan mengendalikan perasaan seorang perempuan sekali pun mereka
telah memutus hubungan.
Perhatikan berikut
ini. Teman perempuan saya memiliki pasangan. Perasaannya sudah dikuasai oleh si
laki-laki, entah itu karena imeng-imeng dijanjikan akan dinikahi, dijanjikan
masa depan yang bahagia, dsb. Ketika suatu ketika si laki-laki harus
meninggalkan teman saya ini, ia akan membuat konsep bagaimana agar proses putus
hubungannya dengan
teman perempuan saya tidak nampak sebagai murni kesalahannya. Anggap saja,
permasalahan yang dihadapi oleh si laki-laki adalah ia dijodohkan oleh orang
tuanya. Di sisi yang lain
dia tidak ingin dikenal sebagai pengkhianat dihadapan teman saya. Maka, dia
mulai menceritakan kebenaran jika dia
akan dijodohkan kepada teman saya. Yang tejadi, teman saya akan menangis. Si
laki-laki kembali akan menguatkan dengan motifasi-motifasi dan semacamnya
hingga akhirnya yang terjadi apa? Mereka berakhir dengan cara damai. Hilang
sudah dari pemikiran teman perempuan saya jika ia telah dikhianati. Yang ada,
inilah takdir. Memang semua benar. Namun, ini bukanlah akhir, melainkan ini
awal dari bencana bagi seorang perempuan. Sebab, seorang perempuan masih akan
tetap mengenang si laki-laki sebagai
orang yang terkasih. Sebagai orang yang tidak bersalah. Sebagai orang yang
tidak mengkhianati. Yang terjadi apa? Proses move on yang lama dan sulit
membuka hati bagi orang lain. Mengapa? Karena perasaan si perempuan masih
DIKENDALIKAN OLEH MANTAN KEKASIHNYA tersebut. Jelas ini berbahaya bagi
seorang perempuan.
Sedangkan di sisi
yang lain, seorang laki-laki akan merasa bangga (red. konsep kepuasan sebagai
kebutuha primer bagi laki-laki) karena masih mengendalikan atau menjaga
perasaan mantan perempuannya, sekali pun ia sadar jika ini adalah kesalahannya,
ia akan tetap berpura-pura menutup mata. Untuk apa laki-laki melakukan ini?
kepuasan (red. konsep kepuasan sebagai kebutuha primer laki-laki). Ketika
laki-laki sedang bosan, ia kembali akan menghubungi mantan kekasihnya. Ia
kembali akan membicarakan seputar kesenangan sampai mengungkit masa-masa indah
mereka. Bisa dengan cerita, mengirim foto dsb. Hanya untuk kepuasan
semata/iseng. Sedangkan bagi perempuan? ia tidak akan pernah menganggap sebagai
hal yang sengaja
dilakukan oleh si laki-laki, melainkan ia akan menerimanya begitu saja.
Membiarkan dirinya terjebak dalam putaran masa lalu. Membuat dirinya berada
dalam lingkaran yang sama dan akhirnya jatuh pada lubang yang sama pula. Bagi perempuan
yang demikian, sulit baginya untuk move on, kembali percaya, atau yakin
jika masih ada orang yang bisa sebanding dengan mantan kekasihnya. Mengapa?
Karena perasaan lah yang lebih dominan bagi seorang perempuan (red. konsep perasaan
sebagai kebutuhan primer bagi perempuan).
Lalu apa yang
harus dilakukan seorang perempuan? Menerima, tutup masa lalu, tatap masa depan,
lalu rasakan dengan sepenuh-penuhnya rasa orang yang saat ini benar-benar
peduli dan memerhatikanmu. Dan jangan lepaskan orang tersebut. Jika masih belum? Percayalah, anda
telah melangkahi kuasa Tuhan J
(jodoh sudah ada yang mengatur broo,
jangn sewot gtuu J J J).
Maka,
berhati-hatilah dan tetap saling menjaga. selalu saling menjaga sikap
menghargai antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana pun dan seperti apa pun
semestinya kita sadar jika menjaga perasaan adalah keniscayaan. Seorang
laki-laki sudah sepantasnya bersikap mengahrgai dan menerima fitrah seorang
perempuan. Pun demikian dengan seorang perempuan semestinya juga melakukan hal
sama, serta selalu berwaspada yang lebih J
Terima kasih
Madura,
23 Juli 2018
*Tulisan ini
murni dari opini penulis, jika ada kesalahan yang sepantasnya tidak
penulis sampaikan, kritik para pembaca sangat kami harapkan.
Penulis adalah santri di pondok pesantren Annuqayah daerah Latee. aktif menulis esai, arikel, story dan puisi. perindu bulan purnama karena baginya saat itulah sebuah puisi akan tercipta buat putri tidur-nya.
penulis dapat dihubungi di email abdullahrois79@gmail.com
pengin lihat puisi-puisinya juga? klik HERE
atau pengin dapatkan cerita bahasa inggris?klik HERE
