Surat Untuk Anak Cucuku di Masa Depan; Kokohkan Rasa Nasionalismemu, Buatlah Bung Karno Bangga
Penulis adalah santri di pondok pesantren Annuqayah daerah Latee. aktif menulis esai, arikel, story dan puisi. perindu bulan purnama karena baginya saat itulah sebuah puisi akan tercipta buat putri tidur-nya.
penulis dapat dihubungi di email abdullahrois79@gmail.com
pengin lihat puisi-puisinya juga? klik HERE
atau pengin dapatkan cerita bahasa inggris?klik HERE
Dulu, para pejuang kemerdekaan dan para pahlawan nasional, yakni orang tua
dan nenek moyang kita, berjuang dengan gigih mempertaruhkan jiwa dan raga demi
mengusir penjajah dari muka bumi Ibu Pertiwi. Mereka dengan semangat berapi-api
tanpa pamrih, bangkit dan maju melawan para kolonialis juga imperialis yang
telah lama menguasai, menyedot dan melahap seluruh kekayaan alam kita. Meski
darah dan nyawa yang harus jadi taruhan para pejuang kita tidaklah menuntut dan
mengharap apa-apa selain “Merdeka atau Mati”. Dan itulah perinsip serta tekad
yang tidak bisa ditawar sedikitpun hingga mengantarkan mereka memiliki rasa
nasionalisme yang “Kokoh Tak
Tertandingi”.
Atas
nama bangsa Indonesia, Soekarno dan Moh. Hatta beserta pemuda-pemudi anak
bangsa bersatu menjadi “Keluarga Kokoh”
untuk memperjuangkan kemerdekaan negeri, hingga pada akhirnya mereka berhasil
menancapkan panji kemenangan dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, pada 17
Agustus 1945. Dan sejak hari itulah Bangsa Indonesia menjadi negara merdeka dan
berdaulat.
Kita
mengetahui jika kemerdekaan Indonesia sangat erat hubungannya dengan peran
serta kaum muda. Mereka telah menunjukkan bukti nyata dengan terus memaksa kaum
tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan saat jepang dikalahkan oleh
sekutu. Bahkan Soekarno juga mengakui jika peran serta pemuda yang telah mampu
mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Dia mengatakan, “Berikan aku 10
pemuda niscaya akan kugoncangkan dunia.”
Jika
kita hidup pada masa yang sama dengan masa Soekarno mungkin kita akan mengamini
perkataan tersebut, namun nyatanya, setelah 71 tahun Indonesia merdeka negeri
ini masih dijajah. Tentu kita tidak akan menemukan sepuluh pemuda yang akan
mampu menggoncangkan dunia melainkan ribuan pemuda yang mampu menggoncangkan
nusantaranya sendiri. Merekalah pemuda yang tidak memiliki rasa nasionalisme;
para pemuda yang pintar mengambil uang rakyatnya, pemuda yang hanya tau
berorasi tanpa memberikan solusi, pemuda yang hanya membanggakan budaya asing
tanpa mempedulikan kebudayaannya sendiri. Sekarang kita dijajah bangsa sendiri!
Sebagai agent
of change pada masa sekarang dan masa yang akan datang kita memiliki peran
yang tak kalah beratnya dengan para pejuang di masa lalu, yaitu malawan bangsa
sendiri. Itulah yang dulu Soekarno khawatirkan. Dia mengatakan, “perjuanganku
lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi pejuanganmu akan lebih sulit karena
melawan bangsamu sendiri.”
Dulu yang bekerja sama dengan penjajah adalah
beberapa raja dan tuan-tuan tanah serta orang-orang kaya, sekarang digantikan
oleh rezim berkuasa, pengusaha kapitalis. Mereka rela berkolaborasi
dengan asing daripada rakyat sendiri demi kekuasaan. Entah pada masa kalian
nanti!
Dulu yang bekerja sama adalah jawara, sekarang
jawaranya tidak perlu lagi menjadi jagoan beladiri, mereka sekarang adalah
pengusaha, media mainstream dan para kerbau-kerbau politik berkeliaran di
sosial media membantu pencitraan rezim yang tidak kemilau, mereka memoles
dusta, memutarbalikkan fakta kondisi masyarakat. Mereka begitu tega membodohi
masyarakat dengan informasi gombal menjijikkan atas rakyat. Entah pada masa
kalian nanti!
Kalau dulunya VOC pemimpinnya saja yang orang
belanda, centengnya orang Indonesia, sekarangpun sama, pribumi yang jadi scurity
perusahan-perusahaan asing di Indonesia. Yang terjadi di freeport adalah contoh
yang sangat nyata, bagaimana kita sampai sekarang masih di Jajah oleh
perusahaan asing. Entah pada masa kalian nanti!
Sebagai solusinya, kita dan kalian di masa
yang akan datang harus menyadari jika sebenarnya kita adalah negeri yang kaya
dengan keberagaman adat, budaya dan agama yang terbentang luas di seluruh
nusantara. serta kita harus meningkatkan rasa nasionalisme, yaitu dengan
menunjukkan sikap mencintai dan bangga akan segala sesuatu yang kita miliki dan
rela berkorban untuk menjaganya.
Inilah surat kasih sayang buat anak cucuku di
masa yang akan datang. Jadilah generasi muda yang mampu berkontribusi bagi
kehidupan bangsa. Buatlah agamamu bangga, orang tuamu bangga dan Bung Karno
bangga, maka kita akan bangga!
Oleh : Abdullah
Rais
“Bangsa yang
besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”
{Bung Karno}

Tidak ada komentar:
Posting Komentar