Penulis adalah santri di pondok pesantren Annuqayah daerah Latee. aktif menulis esai, arikel, story dan puisi. perindu bulan purnama karena baginya saat itulah sebuah puisi akan tercipta buat putri tidur-nya.
penulis dapat dihubungi di email abdullahrois79@gmail.com
pengin lihat puisi-puisinya juga? klik HERE
atau pengin dapatkan cerita bahasa inggris?klik HERE
Menginovasikan Sistem Pendidikan Pesantren Terhadap Sistem Pendidikan Madrasah
(Terinspirasi dari tulisan Aries Musnandar, Dosen UIN Maliki Malang)
![]() |
| Santri putri pondok pesantren |
Sebagai masyarakat Madura, kita pasti sudah tidak asing lagi mendengar kata Madarasah terlebih jika kita tinggal di plosok desa yang terpencil, sudah pasti kita bukan hanya mendengar namun juga telah menyaksikan kegiatan belajar dan mengajar di lembaga pendidikan ini. Yaitu mulai jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).
Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang bernafaskan Islam yang sudah seharusnya memiliki sistem manajemen pendidikan sendiri. Namun jika kita cermati sasama, tentu kita akan banyak menemukan Madrasah-madrasah yang dalam sistem manajemennnya cenderung mengadopsi sistem sekolah umum atau kejuruan milik pemerintah atau sekolah negeri. Tidak ada ciri khas yang mencolok yang dapat menjadi pembeda selain hanya hafalan do’a-do’a dan bacaan-bacaan Al-Qur’an.
Bahkan disadari ataupun tidak penampilan dan kegiatan Madrasah dalam beberapa hal cenderung menirukan apa-apa yang ditampilkan oleh sekolah umum atau negeri. Sudah banyak kita jumpai Madrasah-madrasah yang enggan menjadikan hari jum’at sebagai hari libur sekolah melainkan hari minggu yang merupakan adopsi dari sekolah negeri. Ini merupakan contoh ringan bahwa adanya ketidakpercayaan terhadap ciri khas diri sendiri. Dalam contoh yang lebih crispy mungkin kita akan setuju dengan wacana pemisahan kelas bagi siswa dan siswi tingkat Madrasah Aliyah mengingat Madrasah sebagai lembaga pendidikan ber-asaskan Islam.
Sistem Pendidikan Pesantren Sebagai Solusi
Manajemen pendidikan pesantren dengan sistem manajemen lembaga pendidikan yang lain tidak sama alias berbeda, baik dari segi materi kurikulum, model pembelajaran, peserta didik hingga terkait waktu dan lamanya kegiatan pembelajaran. Dalam konteks ini, mungkin hanya pesantren yang mampu menunjukkan ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan Islam.
Materi agam berada dalam urutan pertama yang menjadi ciri khas pesantren yang kemudian diikuti dengan materi-materi yang lain sebagai penunjang nilai akademik santri. Dalm sistem pengajarannya selalu ada dedikasih langsung sari seorang kyai, dan ini berperan penting dalam menciptakan generasi yang imani. Sedangkan terkait dengan kedisiplinan santri sudah pasti terjamin mengingat banyaknya dan lamanya kegiatan pembelajaran di pesantren.
Singkat kata, pesantren yang telah ada sejak sebelum kemerdekaan telah mampu menjaga ciri khasnya sebagai lembaga pendidikan Islam. Tidak hanya itu, banyak lembaga pendidikan Islam lainnya yang mengadopsi sistem manajmen pendidikan pesantren bahkan Aries Musnandar (Dosen UIN Maliki Malang) memaparkan bahwa dalam bagian tertentu, sistem pendidikan di UIN Maliki Malang banyak terinspirasi dari tradisi-tradisi pesantren yang kemudian “dikawinkan” dengan tradisi-tradisi ilmiah yang bisa dilakukan di Unversitas.
Pada kesimpulannya, kita telah banyak menyaksikan di TV atau media masa lainnya yang melaporkan tingkah laku tidak menyenangkan para pelajar sekolah umum yang ini disebabkan oleh tidak adanya landasan moral yang kuat dalam manajemen pendidikannya. Sebalikya, pernahkah anda menyaksikan perbuatan yang serupa yang melibatkan santri sebagai aktor utamanya? Anda lebih tau jawabannya! Meski mungkin saja itu terjadi namun secara kuantitatif tidak signifikan sebagaimana tingkah laku pelajar negeri yang kerap kali menghiasi pemberitaan publik. Kalimat kesimpulannya adalah mengiovasikansistem pendidikan pesantren terhadap sestem pendidikan Madrasah merupakan cara yang relevan untuk menjaga eksistensi lembaga pendidikan Islam.

